5 kunci keberhasilan digital transformation
5 kunci keberhasilan digital transformation.
5 kunci keberhasilan digital transformation dalam bisnis dan manajemen adalah framework yang Anda bisa terapkan di tempat kerja Anda. namun, sebelum masuk dalam pembahasan ada baiknya untuk membedakan DT dari istilah terkait lainnya yang sering digunakan secara bergantian. Menurut Glosarium TI Gartner, digitalisasi adalah proses perubahan dari bentuk analog ke digital. Hess et al. (2016), dan Horvath ´ dan Szabo ´ (2019) juga melihat otomatisasi proses melalui teknologi informasi sebagai digitalisasi.

Sekilas tentang Digital transformation
Pergantian zaman menyaksikan kemajuan besar yang dicapai dengan teknologi seperti telepon seluler, pemroses data, komputasi terdistribusi, penyimpanan, dan jaringan seluler digital. (Evans & Price, 2020; Heavin & Power, 2018). Konversi digital ini lebih maju daripada hanya sekedar digitalisasi, dan dikategorikan pada tingkat berikutnya yang terkait dengan istilah digitalisasi. Digitalisasi menyerukan cara-cara baru komunikasi dan kolaborasi di tempat kerja, dan dapat dipahami sebagai penggunaan teknologi dan data digital (digitalisasi dan digital asli). Tujuannya untuk menciptakan pendapatan, meningkatkan bisnis, dan mengganti/mengubah proses bisnis (bukan hanya mendigitalkannya). Menurut Schwarzmueller, Brosi, Duman, dan Welpe (2018), hal itu juga menciptakan lingkungan untuk bisnis digital.
Transformasi digital dapat didefinisikan sebagai integrasi teknologi digital ke dalam semua aspek dan operasi suatu organisasi, yang pada gilirannya mengarah pada perubahan infrastruktur dalam cara organisasi dioperasikan dan memberikan nilai kepada pelanggannya. Beberapa peneliti (misalnya, Bouncken, Kraus, & Roig-Tierno, 2021 dan Vial, 2019) berpendapat bahwa Digital transformation melangkah lebih jauh, dan secara fundamental mengubah operasi bisnis, produk, dan proses. yang dalam beberapa kasus mengarah pada model bisnis yang sama sekali baru.
Definisi Digital Transformation
Meskipun diskusi tentang Digital Transformation cenderung memiliki konotasi positif dan telah banyak dilakukan oleh perusahaan besar seperti PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Efek negatifnya juga semakin ditangani, dengan penekanan misalnya pada relevansi pendekatan yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan Digital transformation (O’Halloran & Griffin, 2019), masalah sosial dan etika (Royakkers, Timmer, Kool, & van Est, 2018).
Fokus definisi Transformasi Digital bervariasi dari adopsi dan penggunaan teknologi baru, hingga acceleration dalam hal proses, operasi, hubungan pelanggan, dan kinerja internal maupun eksternal. Hingga penciptaan model bisnis baru, kemungkinan hasil dan dampak pada beberapa aktor dan lingkungan. Digital Transformation diharapkan menjadi pemicu pengembangan dalam berorganisasi yang baru.
Hal ini dapat diwujudkan oleh Perusahaan startup maupun konvensional yang ingin ekspansi lebih jauh, serta dengan organisasi lama yang ingin meningkatkan akselerasinya dengan menerapkan 5 kunci keberhasilan digital transformation.
Dalam pelaksanaannya Digital transformasi setidaknya memiliki kunci keberhasilan, yakni :
-
(Digital) Strategic Management.
Kunci keberhasilan yang pertama yaitu digitalisasi strategic management yang manaPilar ini merupakan landasan bagi seluruh upaya transformasi digital. Strategi digital yang jelas dan terukur akan menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya. Elemen penting dalam pilar ini meliputi:
- Visi digital: Mendefinisikan tujuan jangka panjang organisasi dalam era digital.
- Strategi digital: Rencana aksi yang detail untuk mencapai visi digital, termasuk identifikasi peluang dan ancaman.
- Roadmap digital: Peta jalan yang menggambarkan tahapan-tahapan transformasi digital dan timeline yang realistis.
- Key Performance Indicators (KPIs): Metrik yang digunakan untuk mengukur keberhasilan strategi digital.
Salah satu Perusahaan yang sukses dalam menjalankan digital transformation adalah PT. Mirae asset sekuritas Indonesia yang mana bisa mentransformasikan proses jual beli saham dari manual menjadi online. Setidaknya dalam hal Digital Strategic Management tim digital transformation di PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menerapkan beberapa flow, yakni :
- Becoming a customer,
- Preparing to buy,
- Place order,
- Receive products & services,
- Receive invoice & pay,
- Place inquires.

-
Processes (Re-)Engineering Management.
Transformasi digital tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang merombak proses bisnis yang ada. Pilar ini fokus pada:
- Analisis proses bisnis: Memetakan dan mengevaluasi proses bisnis yang ada untuk mengidentifikasi area yang perlu diubah.
- Re-engineering proses: Mendesain ulang proses bisnis agar lebih efisien, efektif, dan mendukung model bisnis digital.
- Otomatisasi: Menerapkan teknologi otomatisasi untuk mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan produktivitas.
Dengan demikian, digitalisasi proses yang sukses memerlukan perspektif ‘berpusat pada proses’ yang menyiratkan ‘pandangan horizontal’. Bisnis yang menciptakan kolaborasi antar departemen dan aktivitas bernilai tambah dari awal sampai ke pelanggan akhir untuk mencapai peningkatan kinerja proses dan kepuasan pelanggan. Dalam pengertian ini, inovasi proses digital mencakup visi cara kerja baru, cara berbisnis, dengan memanfaatkan kemampuan teknologi digital baru dan mengubah desain proses aktual menjadi desain hibrida atau digital dengan fitur nilai tambah baru bagi pelanggan dan/atau peningkatan efisiensi baru dalam hal pelaksanaannya yang lebih baik.
Lean Tools
Dengan menerapkan Lean tools yang sangat terkenal yaitu Value Stream Mapping dalam pilar ini, organisasi akan dapat menemukan apa yang bernilai bagi pelanggan. sehingga proses manual dapat bedubah menjadi hibrida yang lebih efektif dan efisien, yang merupakan salah satu prinsip utama filosofi Lean Thinking. Item dipetakan sebagai nilai tambah atau tidak menambah nilai dari sudut pandang pelanggan. Selain itu, keputusan investasi untuk memperoleh teknologi Industri akan diambil dengan menilai kinerja proses berdasarkan metrik kuantitatif yang diperoleh berkat upaya VSM.
Value Stream Mapping menyediakan visualisasi terstruktur dari pengalaman pelanggan di seluruh titik proses penyampaian nilai. Hal ini termasuk apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan pelanggan tentang pengalaman penyampaian nilai. Sebagai pelengkap, Cetak Biru Layanan memungkinkan visualisasi proses penyampaian nilai. Titik kontak pelanggan di seluruh proses, dan bukti penyampaian nilai dari sudut pandang pelanggan.
Set tools lainnya yang provided by Design Thinking discipline yang akan memungkinkan identifikasi value for the customer yakni: The Empathy Map, The Customer Journey Map, and The Service Blueprint
-
(Digital) Technology Management.
Untuk benar-benar memahami value technology digital tertentu untuk berinovasi, digitalisasi, dari beberapa proses bisnis hingga seluruh bisnis dan model operasinya dibutuhkan pengetahuan seputar management technology yang baik.
Pendekatan Lean Start-up dapat diterapkan dalam pilar ini, karena pendekatan ini merupakan penerapan filosofi Lean Thinking. Selama penciptaan usaha, produk, dan layanan baru. Salah satu landasan metodologi Lean Start-up adalah siklus “Build– Measure – Learn”, yang juga dikenal sebagai “feedback-loop”.
Dalam siklus tiga langkah ini,
- langkah pertama adalah memahami masalah konsumen yang perlu dipecahkan.
- Langkah kedua mengacu pada pengembangan Minimum Viable Product (MVP) yang memungkinkan proses siklus pembelajaran yang cepat dan tepat waktu (yaitu pembelajaran Just-in-Time (JIT).
- Langkah terakhir dan ketiga, setelah MVP ditetapkan, adalah mengukur “keberhasilan” menggunakan metrik yang dapat ditindaklanjuti, dan belajar dari persyaratan dan wawasan pelanggan yang diberikan oleh pengguna awal dari siklus pembelajaran pertama untuk meningkatkan MVP.

-
(Digital) Risk Management.
Terakhir, manajemen risiko bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah bisnis. Karena seiring perusahaan mendigitalkan proses bisnisnya, ‘risiko digital’ yang tidak diketahui terkait dengan operasi proses bisnis digital dan/atau hibrida baru akan muncul dan harus dipelajari untuk dikelola oleh semua orang dalam organisasi.
Selain itu, Strategi Risiko (Digital) menyiratkan membangun sebuah ‘kerangka kerja’ untuk mengatasi risiko yang terkait dengan implementasi strategi digital dan teknologi digital terkait. Risiko digital tersebut dapat mencaku :
- Pemilihan teknologi: Memilih teknologi yang tepat untuk mendukung strategi bisnis dan kebutuhan pelanggan.
- Implementasi teknologi: Melakukan implementasi teknologi secara efektif dan efisien.
- Integrasi sistem: Mengintegrasikan berbagai sistem teknologi yang ada untuk menciptakan ekosistem digital yang terhubung.
- Pengelolaan data: Mengelola data secara aman dan efektif untuk mendukung pengambilan keputusan.
-
Change (People) Management Pillar
Perusahaan yang memimpin transformasi digital industri (konstruksi) kami. Seperti yang diterapkan PT. Mirae asset sekuritas Indonesia, setidaknya menerapkan beberapa pilar :
- Inovasi – artinya pemikiran yang disruptif dan ide-ide baru
- Adaptabilitas – sebagai kemampuan suatu organisasi untuk mengadaptasi dirinya sendiri, termasuk Agility dan flexibility untuk mengikuti kecepatan dan dinamika perubahan yang dibutuhkan;
- Customer Centricity – mempertimbangkan feed back pelanggan sebagai peluang untuk perbaikan berkelanjutan;
- Openness and Transparency – antara pelanggan internal dan eksternal;
- Data driven – decision-making – mendukung keputusan dengan data konkret daripada intuisi; dan
- Digital mindset – untuk memberikan solusi tepat waktu dengan memanfaatkan kemampuan teknologi digital
itu semua adalah 5 kunci keberhasilan digital transformation yang bisa Anda terapkan di perusahaan Start up atau konvensional, untuk lebih lanjut mendalami atau berbincang dengan kami dengan cara klik link dibawah :
